4

barus masa islam

Posted by Unknown on 11:01 AM in
A.    Barus Masa Pra Islam
Menurut literatur kuno Tiongkok, sekitar tahun 625 Masehi telah ada sebuah perkampungan Arab Islam di pesisir Sumatera (Barus). Jadi hanya 9 tahun sejak Nabi Muhammad SAW memproklamirkan dakwah Islam secara terbuka, di pesisir Sumatera sudah terdapat sebuah perkampungan Islam. Secara ringka dapat dipaparkan sebagai berikut: Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di tahun 610 M, dua setengah tahun kemudian menerima wahyu kedua (kuartal pertama tahun 613 M), lalu tiga tahun lamanya berdakwah secara diam-diam—periode Arqam bin Abil Arqam (sampai sekitar kuartal pertama tahun 616 M), setelah itu baru melakukan dakwah secara terbuka dari Makkah ke seluruh Jazirah Arab. Demikian hasil temuan G.R. Tibbets yang telah melakukan penelitian dengan tekun. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun 674 M telah menemukan satu kelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air. HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika (Ridyasmara, 2006).


Pedagang Arab memasuki Barus sekitar 627-643 M atau sekitar tahun 1 Hijriah, dan menyebarkan agama Islam di daerah itu. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin, bernama Syekh Ismail akan ke Samudera Pasai dan singgah di Barus, sekitar tahun 634 M. Sejak itu, tercatat bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya “Silsilatus Tawarikh.” (Wanti, 2007).Baru pada tahun 1978, sejumlah arkeolog dipimpin Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary melakukan penelitian terhadap berbagai nisan makam yang ada di sekitar Barus. Pada penelitian terhadap nisan Syekh Rukunuddin, arkeolog juga pengajar di Universitas Airlangga Surabaya dan guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, meyakini bahwa Islam sudah masuk sejak tahun 1 Hijriah. Hal itu berdasarkan pada perhitungan yang menguatkan pendapat
sejarawan lokal Dada Meuraxa yang didukung sejumlah sejarawan lainnya bahwa tulisan pada nisan makam Syekh Rukunuddin itu tahun 48 Hijriah. Pengukuhan itu dikuatkan lagi dalam seminar pada 29-30 Maret 1983 di Medan menyimpulkan Barus merupakan daerah pertama masuknya Islam di Nusantara. (Wanti, 2007).Perhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus bertuliskan aksara Arab dan Persia. Misalnya batu nisan Syekh Mahmud di Papan Tinggi. Makam dengan ketinggian 200 meter di atas permukaan laut itu, menurut Ustadz Djamaluddin Batubara,hingga kini ada sebagian tulisannya tidak bisa diterjemahkan. Hal itu disebabkan tulisannya merupakan aksara Persia kuno yang bercampur dengan aksara Arab.Seorang arkeolog dan ahli kaligrafi kuno Arab dari Prancis
Prof. Dr. Ludwig Kuvi mengakui Syekh Mahmud berasal dari Hadramaut, Yaman, merupakan ulama besar. (Wanti, 2007).Berdasakan buku Nuchbatuddar karya Addimasqi, Barus juga dikenal sebagai daerah awal masuknya agama Islam di Nusantara sekitar abad 7 Masehi. Sebuah makam kuno di kompleks pemakaman Mahligai, Barus, di batu nisannya tertulisSyekh Rukunuddin wafat tahun 672 Masehi.
B.     Barus Masa Kejayaan Islam
Pada sekitar tahun 627-643 atau tahun pertama Hijriah kelompok pedagang Arab memasuki pelabuhan Barus. Diantara mereka tercatat nama Wahab bin Qabishah yang mendarat di Pulau Mursala pada 627 M. Ada juga utusan Khulafaur Rasyidin bernama Syekh Ismail yang singgah di Barus sekitar tahun 634. Sejak itu, bangsa Arab (Islam) mendirikan koloni di Barus. Bangsa Arab menamakan Barus dengan sebutan Fansur atau Fansuri, misalnya oleh penulis Sulaiman pada 851 M dalam bukunya Silsilatus Tawarikh.
Sejak itu Islam berkembang di Barus. Islam berkembang di Barus dibawa oleh para penyebar agama Islam. Seorang sejarawan, Dada Meuraksa mengatakan Islam masuk ke Barus pada tahun I Hijriah, berdasarkan penemuan batu nisan Syekh Rukunuddin di komplek pemakaman Tuan Mahligai. Dari Barus agama Islam berkembang ke Aceh yang melahirkan Kerajaan Samudra PasaiPerhitungan masuknya Islam di Barus itu didukung pula dengan temuan 44 batu nisan penyebar Islam di sekitar Barus yang bertuliskan aksara Arab dan Persia. Sehingga Barus juga dikenal dengan julukan KOTA KERAMAT 44.
Sejarah awal masuknya Islam ke Nusantara melalui Barus ini tidak banyak yang tahu. Karena Barus terlanjur terlupakan dan hanya menjadi sebuah kampung yang terpencil dan tidak tercatat oleh sejarah. Hal ini dikarenakan sejarah telah lebih banyak mencatat kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Dan Barus juga tidak mempunyai peninggalan Islam yang bersifat monumental seperti layaknya mesjid-mesjid di pulau Jawa.Tetapi sebagai bukti awal masuknya Islam di Nusantara ini melalui Barus dapat kita lihat dari makam para penyebar agama Islam disana, yang oleh masyarakat setempat disebut TUAN. Ada banyak “tuan” di Barus, tetapi banyak diantaranya sudah punah karena kurang perhatian dari pemerintah. Diantara TUAN yang bisa dikunjungi al:
TUAN DIATAS                 
Makam Syekh Makhmud. Diperkirakan sebagai penyebar agama Islam pertama. Makam terletak di bukit Papan Tinggi dengan ketinggian 200 meter diatas permukaan laut. Desa Pananggahan berjarak 4 km dari pusat kota Barus.
TUAN MAHLIGAI
Makam Syekh Rukhunudin. Nisan tertulis tahun 48 H. Terletak di Desa Aek Dakka, berjarak 6 km dari pusat kota Barus.

TUAN BATU BADAN
Makam Syekh Ibrahimsyah. Terletak persis di piertigaan jalan raya Sibolga - Barus - Pakkat. Desa Bukit Hasang, berjarak 3 km dari pusat Kota Barus.


TUAN MAKHDUM
Makam Syekh Makhdum. Terletak di Desa Patupangan, dekat dengan jalan raya berjarak 3 km dari dari pusat Kota Barus.

TUAN AMBAR
Makam tidak dikenal. terletak di Desa Pananggahan, berdekatan dengan situs Palinsir.

TUAN GUNUNG
Makam tidak dikenal. Terletak di Desa Pananggahan berdekatan dengan situs Palinsir.

TUAN PALINSIR
Komplek 
Makam Palinsir merupakan salah satu komplek makam yang cukup luas dengan peninggalan yang banyak pula. Tetapi saat ini sudah tidak ada karena terlanjur dibuat oleh masyarakat setempat sebagai kebun singkong




4 Comments


DESA AEK DAKKA ISLAM PERTAMA NUSANTARA
Ditemukan bukti baru sebuah maqom Sheikh Ruknuddien,BARUS .bertuliskan th.wafatnya 48 H.673M.Ulama golongan sahabat,tabiin yang telah lama berdakwah di kerajaan Samudra Pasai,tepatnya di Pulau Barus,dusun Luo Tuo desa Aek Dakka,Tapanuli Tengah,SUMATRA UTARA.


Sahabat WAHHAB BIN ABIWAQASH
PERNAH DI PULAU FANSURIA BARUS


wes mantap pak,
anen desember kemaren ke barus itu pak,namun sedikit kecewa saat ke sana tak di temukan lgi kapur barus y pak


Yah....
Seiring berjalannya waktu yang cukup panjang membuat sejarah yang telah berlalu itu tidak diketahui padahal pada masa sejarahnya barus merupakan tempat paling terkenal didunia akan kapur barus dan mennyan-nya....

Post a Comment

Copyright © 2009 dunia kita-kita All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.